xbanner 970x250

PWI Banten Tekankan Pentingnya Uji Kompetensi Wartawan di Hadapan Pendidik Kota Tangerang

3 minutes reading
Tuesday, 12 May 2026 21:37 0 62 Redaksi

Visinews.id – KOTA TANGERANG – Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Tangerang menggelar seminar bertajuk “Peran Organisasi Pers Dalam Menghadapi Wartawan Tidak Profesional Serta Membangun Literasi Media yang Sehat”. Acara ini berlangsung di Aula Lantai 3, Gedung Pusat Pemerintahan (Puspem) Kota Tangerang pada Selasa (12/5/2026).

​Kegiatan strategis ini dihadiri oleh sedikitnya 310 Kepala Sekolah SD dan SMP Negeri secara luring, sementara Kepala Sekolah swasta mengikuti melalui daring. Seminar ini menjadi ruang dialog penting yang mempertemukan elemen pendidik, organisasi profesi pers, serta pemerintah daerah guna mengatasi hambatan komunikasi yang selama ini terjadi di lapangan.

Menepis “Alergi” Wartawan di Lingkungan Sekolah
​Ketua PWI Kota Tangerang, Herwanto, dalam laporannya mengungkapkan bahwa gagasan seminar ini lahir dari keresahan dua belah pihak. Di satu sisi, wartawan sering merasa dipersulit saat ingin melakukan konfirmasi. Di sisi lain, para kepala sekolah merasa terbebani oleh oknum yang mengaku wartawan namun bertindak di luar kode etik, seperti menginterogasi layaknya penyidik terkait dana BOS.

​”Tugas wartawan bukan sebagai penyidik. Melalui seminar ini, kami ingin memperkuat pengawasan internal melalui penegakan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Kami ingin membangun literasi media yang sehat agar sekolah tidak perlu lagi merasa alergi atau takut saat bertemu wartawan yang profesional,” tegas Herwanto.

​Senada dengan hal tersebut, Ketua PWI Provinsi Banten, Rian Nopandra, menekankan pentingnya standar kompetensi. Ia menganalogikan peran wartawan profesional seperti wasit dalam pertandingan sepak bola yang harus memberikan informasi berdasarkan fakta di lapangan tanpa memihak.

​”Wartawan profesional harus memiliki tolak ukur, baik dari kualitas produk jurnalistiknya maupun kepatuhan terhadap kode etik. Di era AI ini, publik harus kritis. Wartawan harus memberi teladan dalam mengecek fakta dan memisahkan opini, sebagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara: Ing Ngarsa Sung Tuladha,” ujar Rian. Ia juga mendorong agar PWI segera turun langsung ke sekolah-sekolah untuk memberikan praktik literasi.

​Ketua DPRD Kota Tangerang, Rusli, yang turut hadir memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah PWI. Menurutnya, di era digitalisasi, tantangan terbesar adalah fenomena post-truth, di mana kebenaran sering kali tertutup oleh informasi hoaks yang disebarkan secara berulang.

​”Pers yang sehat akan melahirkan masyarakat yang sehat. Kami di DPRD sangat mendukung kolaborasi ini. Ke depan, anak-anak didik kita juga perlu dibekali kemampuan memfilter informasi, karena pengaruh media sosial saat ini sangat kuat dalam pembentukan karakter mereka,” jelas Rusli.

​Acara yang dibuka oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tangerang, Herman, mewakili Walikota ini juga menghadirkan narasumber ahli dari Dewan Pers, Rustam Mandayun, dan Ketua Dewan Kehormatan PWI Banten, Mohamad Hopip.
​Selain dihadiri oleh unsur pendidikan, seminar ini juga diramaikan oleh 12 forum komunikasi wartawan di Tangerang Raya serta organisasi perusahaan pers seperti SMSI, JMSI, dan SPS. Kehadiran berbagai elemen ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem informasi yang transparan dan akuntabel di Kota Tangerang, demi mewujudkan visi pembangunan daerah yang kolaboratif.
Red/kjk

LAINNYA
xbanner 970x250